Kendali Versi ‘Source Code’ dengan Git
Sebelumnya saya ingin bercerita terlebih dahulu tentang pengalaman saya semasa kuliah saat terlibat dalam penelitian robotik untuk KRCI di tahun 2010. Saat itu tim sedang mengerjakan sebuah program agar robot dapat mengerjakan task A. Setelah sekian lama berkutat di depan komputer dan serangkaian trial and error robot berhasil menjalankan misi dari task A.
Kemudian program dikembangkan ke versi berikutnya, agar mampu mengerjakan misi yang lebih rumit dengan penambahan beberapa variabel. Setelah beberapa jam coding, robot yang diharapkan masih belum bisa menjalankan misinya, alih – alih robot malah menjadi kacau dan error. Karena putus asa, akhirnya tim bersepakat untuk kembali ke program versi sebelumnya (task A). Sayangnya, semua anggota tim lupa membackup program versi lama tersebut, sehinga program tidak bisa dikembalikan ke versi awalnya.
Berikut sekilas cerita dari betapa rumitnya sebuah proses development sebuah program jika kita tidak memiliki sistem versioning, kita tidak bisa berpindah dari satu versi program ke versi program yang lainnya. Kita harus membackup-nya secara manual masing – masing source.
- Git, Sebuah Version Control System
Sebenarnya ada banyak jenis Source Control Management. Yang paling populer dan banyak digunakan (termasuk saya) adalah Git. Git adalah software Source Control Management yang diciptakan oleh Linus Torvalds, yang pada awalnya dibuat untuk tujuan pengembangan kernel Linux.
Git memudahkan kita untuk melakukan manajemen versi dari source code program, perubahan demi perubahan yang kita lakukan pada program akan tercatat, dan kapanpun kita inginkan kita bisa berpindah dengan cepat dari satu versi ke versi yang kita kehendaki. Oke, saya nggak akan berbicara terlalu teknis, mending kita langsung install saja aplikasinya disini.
Setelah Git selesei diinstal, maka mari kita mulai dengan membuat repository awal.
Eits, bentar. Repository? Makanan apa itu?
Adverstiment
Repository adalah istilah git dalam menyebut semacam direktori penampung yang merekam semua perubahan source program yang kita kerjakan. Untuk memulai membuat repository, masulah ke root source dari progam yang dibuat.
Semisal saya, mempunyai source program di dalam direktori Halo. Maka, menggunakan windows eksplorer saya masuk ke direktori halo. Lalu klik kanan pada area kosong kemudian pilih Git init here.

Selain itu, kita bisa juga menggunakan perintah command prompt dengan pilih Git Bash lalu mengetikan command
git init
Adverstiment
Git akan membuat sebuah direktori bernama .git. yang menandakan bahwa repository git telah dibuat dan dinisialisasi. Setelah repository dibuat, kita perlu menambahkan file source, kedalam staging area, yaitu suatu kondisi dimana file serta folder source code masuk ke dalam repository namun dalam keadaan belum tersimpan. Hal ini dapat dilakukan dengan klik kanan pada area kosong pada posisi root repository lalu pilih Git add all files now
Jika menggunakan command prompt/Git bash dapat menggunakan perintah berikut
git add *
- Advertisement -
Selamat, kini source code anda telah terekam dan masuk ke dalam repository, sebanyak apapun perubahan yang kita lakukan, setiap saat kita bisa ‘melakukan restore‘ kembali ke versi ini. Selalu ingatlah, setiap kali melakukan perubahan pada source code, maka lakukan commit agar perubahan yang kita lakukan dapat direkam.
Team Collaboration
Lalu bagaimana jika kita tidak mengerjakan program sendirian, melainkan bersama suatu tim yang terdiri dari 2-3 orang atau lebih? Kita bisa terhubung dengan anggota tim yang lain dengan melakukan push repository local kita ke remote repository (Pada sebuah komputer server yang telah diinstal Git server).
Pembahasan mengenai instalasi Git server tidak akan dibahas dalam seri tulisan ini. Sebagai gantinya kita bisa menggunakan remote repository yang telah tersedia di internet, salah satu yang terkenal adalah Github. Github menyediakan remote repository gratis yang bisa digunakan untuk menampung source code kita secara terpusat. Namun repository yang dibuat akan persifat publik, artinya bisa diakses oleh siapa saja. Jika kita menginginkan remote repository yang bersifat private, anda harus membayar sejumlah uang kepada github, atau jika ingin yang gratis maka bisa kita bisa gunakan bitbucket.
Dalam tulisan saya berikutnya, saya akan membahas tentang bagaimana membuat sebuah remote repository dan melakukan push source code kita, sehinga bisa diakses oleh sesama anggota tim.
salam elektronika 😉


